header ads

Cerpen "Memacing Rindu"



     Di depan mentari senja. Suara ombak berkesinambungan dengan lantunan angin membentuk nyanyian sendu. Mereka menghempas mencoba melepaskan karmanya dan bergema ketika air laut mengisi kekosongan susunan batu grip.

     Dengan penglihatan yang membuyar, dia berupaya tersenyum manis sambil mengingat kisah kalian. Kisah yang mengisi sebagian memori. Kisah pengusir kesepian sebelum masa-masa meredupkannya.

     Lampu sorot di pantai mulai menatap diam. Seolah menyorotinya karena mengasingkan diri dari dunia. Sorotan itu seolah berkata "tetaplah seperti itu, tangismu tak akan diketahui oleh beratus pasang mata yang lalu lalang dikeramaian malam,".

     Sore tadi, masih tampak jejak kaki mu dan kakinya di pasir sisa candaan kalian semalam. Seakan riaknya air laut tak mau menghapuskan kenangan. Katanya sebagai bahan cerita mereka pada bayangan.

     Sambil membayangkan jejak kaki kalian yang bercampur, dia terus melangkah mendekati tugu ALRI. Tugu yang katanya sebagai tanda bahwa angkatan laut pernah menjadikan kota ini sebagai markas.

     Di tugu yang baru dibangun ini, dia mulai berpandangan nanar dengan sesekali suara ombak mengejutkan karena angin yang semakin kuat berhembus. Hampir semua orang mulai menghindar dari tepian tugu itu karena takut basah disiram asinnya air. Sedangkan dia di sana masih memancing rindu tentang kisah kalian yang terjalin walaupun beberapa waktu.

     Namun kisah itu tak mau menampakan rindunya sejak pertemuan kalian pada malam tadi. Pertemuan itu seolah menutup jalan yang kalian bangun. Jalan yang sayang masih berkerikil sehingga menyakitkan jika dilewati. Setidaknya itu yang ingin kau katakan.

     Aku tahu dia pernah berkata "kisah kita dibentur oleh adat,". Namun bukankah kau bantah dengan  "masalah adat kita cari solusinya yang penting kita punya kemauan,".  Perkataanmu  yang membuatnya terus melangkah di jalan yang masih kerikil itu.

     Sekarang, di tugu yang terdapat patung-patung yang belum diresmikan itu telah menjadi saksi bisu. Sedangkan aku yang terpaksa membisu dan mengabadikan kisah yang beselimutkan sendu.

     Ombak semakin menunjukkan kuasanya. Seolah mengusir kita dari pantai ini. Dan mengusir lamunannya yang masih memaksa membayangkan mu berdiri untuk terakhir kali. Walaupun dia tahu jalan menjemput rindu itu semakin mengabur.

     Dia mulai melangkah menjauhi tugu mendekati tepian pantai sekadar menghindar dari ombak yang membasahi.  Dan sekadar ingin melihat jejak kalian yang menyatu di pasir untuk terakhir kali, sebelum kami kembali ke Riau, kampung halaman kedua kami setelah Jawa.

     Jejak itu mulai dimakan ombak. Melihat itu semangatnya untuk merakit ingatan indah di malam kalian terakhir bertemu mulai luluh. Dari kejauahan di bawah tenda pedagang yang mulai reot karena dihantam angin Barat, dia terus memandangi dua objek bersejarah baginya. Objek yang berisi kenangan manis dan pahit. Jejak kaki kalian di pantai dan tugu ALRI.

     "Sudahlah Lila. Ayo kita kembali. Tidak perlu meratapi dia," teriakku dari tenda  di bawah pohon pinus yang ditanam sepanjang pantai dan daun keringnya bertebangan karena angin.
     "Iya kak, tapi aku hanya ingin melihat tempat berjarah ku dengannya untuk terakhir kali," sahutnya yang tubuhnya menghadap ke arah ku namun  kepalanya mengarah ke arah lain.
     "Untuk apa? Toh hanya akan menambah luka mu," desaku.
     "Sebentar lagi kak, sebentar.... saja," pintanya.
     "Hujan sudah mulai turun," desakku lagi namun tak ada jawaban.
     "Lila!!," panggilku.

     Aku tidak tahu apa yang dia tunggu. Namun pasir itu terus ditelan ombak. Nampaknya batu grip yang dipasang tak mampu menahan kuatnya ombak di malam ini.

     Sejenak aku berpikir. Apa dia menunggu pasir itu ditelan ombak? Atau dia mencoba memancing rindu dengan jejak pijakan itu? entahlah.

     Ritme angin mulai meningkat sehingga menambah buas hantaman ombak pada tepian. Kini kakinya mulai terkena ombak. Dan dia hanya terdiam namun sesekali menengok ke belakang. Anehnya ia melihat tak mengarah kepada ku. Namun pada batang pinus lain. Lima batang pinus jaraknya dari tempatku berdiri.

     Jejak kalian kini telah sempurna ditelan ombak. Padahal jejak itu mungkin sebagai pemancing rindu agar tak lupa denganmu. Namun kini tak ada lagi pemancing rindu itu.

     Dia mulai melangkah gontai ke arah ku. Dengan kaki basah hingga betis. Sedangkan  baju menyisakan bekas ribuan rintik hujan. Dan jilbab kini terpasang acak karena tipuan angin. Tak rapi seperti sebelum kami tiba di pantai dipenghujung siang.

     "Ayo kita balik ke Pekanbaru kak," ajaknya yang tak menatapku namun menuju mobil.

                                    ***

     Kini pasir itu telah dimakan ombak karena kurangnya pertahanan yang dibuat, sama seperti kisah kalian. Tidak mampu menahan desakan antarkeluarga.

     Lalu untuk apa kau berdiri di pinus itu dengan api kecil yang memerah di kegalapan disetiap hisapan. Dan kau terbatuk karenanya. Mungkin esok tak ada lagi cerita usang yang elok untuk dikenang. 




Jumat, 17 Februari 2017.
Batu Mangaum, Kecamatan Sungai Geringging, Padangpariaman, Sumbar.

Inspirasi kisah dari:
1. ALRI
http://www.antarasumbar.com/berita/194125/pariaman-jadikan-tugu-alri-sebagai-wisata-edukasi.html

2. ABRASI
http://sumbar.antaranews.com/berita/195588/pariaman-upayakan-bantuan-pusat-cegah-abrasi-pantai.html

Posting Komentar

0 Komentar